Cabut Gigi Geraham Bungsu

Lanjutan soal gigi. Sudah agak lama baru bisa posting, ga papa ya? Terakhir saya diberi rujukan untuk cabut gigi di Lakesgilut Halim. Berangkat pagi-pagi bersama ibu dan karena jalanan masih lancar, sekitar satu jam kemudian kami sampai. Ruang pendaftaran untuk pasien rujukan ada di kanan pintu masuk. Pasien bpjs harus mendaftar dulu di situ, bila persyaratan administrasi lengkap dan disetujui, maka lanjut mendaftar di ruang pendaftaran yang ada di kiri pintu masuk. Dua ruang ini berhadap-hadapan kok, jadi ngga akan nyasar. 

Di ruang pendaftaran ini petugasnya ramah sekali. Olehnya, saya diminta mengisi data. Setelah selesai, saya diarahkan ke ruang pemeriksaan awal. Bila di ruang pendaftaran petugasnya ramah sekali, di ruang pemeriksaan wajah petugasnya masam dan ngga ramah. Jadi ngga nyaman rasanya ada di dekat petugas itu. Untungnya dokter di ruang pemeriksaan cukup ramah. Saat itu dokternya hanya periksa kondisi gigi dan memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan, yaitu cabut gigi graham atas. Ternyata gigi yang bisa dicabut hanya satu gigi di satu waktu, ngga bisa langsung sekaligus. Dan ternyata lagi, cabut giginya ngga bisa dilakukan di hari itu jadi saya dijadwalkan untuk cabut gigi di bulan berikutnya. Padahal sudah nyiapin mental untuk cabut gigi dua sekaligus saat itu. 

***

Bulan berikutnya, kembali ke Lakesgilut. Di sini harus mulai lagi dari pendaftaran di ruang bpjs, lanjut ke ruang pendaftaran yang satu lagi, kemudian ke ruang untuk cabut gigi (saya lupa nama bagiannya 😮) Karena hari itu saya ngga mendaftar di ruang pendaftaran untuk pasien rujukan bpjs, saya harus balik lagi ke ruang pendaftaran pasien bpjs dan daftar dulu sebelum ada tindakan cabut gigi.

Saat  itu sepertinya saya datang agak kepagian, karena petugas dan pegawainya baru akan melaksanakan apel pagi. Ngga lama setelah apel pagi, saya dipanggil karena saya nomor urut satu sepertinya. Masuklah saya ke ruang dokter dan ngga lama saya keluar lagi dari ruang dokter dengan gigi yang telah berkurang satu. Well, prosesnya cepat dan ngga sakit. Saking cepatnya,  saya malah ngga ngeh pertama kali dokternya nyuntik obat bius di gusi. Saya kira dokternya masih periksa kondisi gigi. Baru setelah dokternya balik badan, saya sadar kalo habis dibius. Setelah beberapa kali suntikan dan mulai mati rasa gusinya, barulah dicabut giginya. Itu juga ngga pake lamaaaaa… Ketakutan sebulan mau cabut gigi, ternyata sia-sia karena prosesnya cepat dan ngga sakit. Bahkan yang nungguin aja sampe kaget saking cepatnya. Sekarang tinggal satu graham lagi nih.

Advertisements

Cabut Gigi Di Puskesmas

Setelah bandar tekor saat kunjungan ke dokter gigi minggu kemarin, saya putuskan untuk melakukan rencana perawatan gigi yang sudah disusun dokter Ewaldo di puskesmas saja. Iya, soalnya biaya cabut graham bungsu ga murah bos! Dari hasil baca-baca biayanya bervariasi dari 750 ribu di FKG UI sampai yang jutaan di rumah sakit. Saya angkat tangan dan melambai ke kamera. Sempet terpikir mau ke FKG UI juga, tapi akhirnya ke puskesmas jua. Niatnya mau minta surat rujukan supaya bisa dicabut di rumah sakit, tapi kalo memang bisa dicabut di puskesmas ya ga masalah. Jadi ga repot.

Puskesmas yang saya tuju ini puskesmas kelurahan Rawamangun yang jam bukanya sebenarnya mulai 7.30 pagi. Tapi untuk poli gigi, pendaftaran dibuka mulai jam 6 pagi. Ada sekuriti yang bertugas jadi petugas pendaftaran. Dia yang mengurutkan nomer pasien sesuai kedatangan. Maksimal jumlah pasien gigi per hari adalah 25 orang. Saya datang jam 6.19 dan dapat urutan nomer 17. Jam 7 barulah nomer pendaftaran dibagikan sesuai urutan kedatangan untuk diserahkan kembali beserta kartu KJS pasien. Jam 7.30 puskesmas mulai resmi beroperasi tapi pasien gigi baru mulai dipanggil jam 8.15 

Akhirnya sampai juga giliran saya. Oleh dokternya saya diberi surat rujukan. Sebelumnya dokternya tanya rumah sakit mana yang mau saya tuju. Dokter menawarkan RS Budi Asih, tapi tidak saya iyakan karena lokasinya lumayan jauh. Hingga akhirnya dokternya menawarkan untuk dirujuk ke puskesmas kecamatan Pulo Gadung karena di sana dokternya banyak dan peralatannya lebih lengkap, kalau masih tidak bisa barulah dirujuk ke rumah sakit. Saya setuju dengan rencana tersebut karena lokasinya dekat. Toh gigi bungsu saya posisinya sepertinya mudah untuk dicabut karena tumbuhnya lurus, tidak rubuh di dalam gusi. Jam 10.30 kelar sudah penantian sejak pagi.

***

Tadi pagi, rencananya mau berangkat ke puskesmas kecamatan Pulo Gadung jam 8. Cancelled. Akhirnya berangkat jam 9 kurang. Sengaja ga datang pagi-pagi karena saya yakin puskesmas ini ga menerapkan sistem pembatasan jumlah pasien dan karena saya malas menunggu lama. Toh dokternya ga cuma satu, tidak seperti di puskesmas kelurahan. Asumsi saya pasien akan sudah berkurang banyak kalo saya datang siang jadi tidak perlu menunggu lama.

Jam 9 lewat sampai di puskesmas kecamatan dan saya dapat nomer antrian 54. Poli gigi terletak di lantai 3, sesampainya di lantai 3 ternyata antriannya baru sampai nomer belasan hahaha… Prediksi saya meleset jauh. Tapi untungnya dari angka 17 sampai ke 30-an berjalan cukup cepat karena banyak nomer yang dilewati. 

Saat tiba giliran saya, ternyata memang  untuk cabut gigi bungsu ini harus di rumah sakit. Oleh dokternya yang masih muda dan cantik, saya disarankan dirujuk ke Lakesgilut di Halim. Pertimbangannya adalah karena dia mengkhususkan di gigi dan mulut. Saya setuju, lalu selesailah penantian kedua ini. Kalau dihitung-hitung, ah, ternyata waktu yang harus saya habiskan menunggu di puskesmas kecamatan tidak jauh beda dengan yang di puskesmas kelurahan. 

Ternyata oh ternyata, nomer 54 adalah nomer kedua terakhir di poli gigi hari ini. Yah nasib, hahahah…

Ke Dokter Gigi

Jadi begini… Gara-gara curiga ada gigi yang bolong dan sakit gigi yang bikin makan ga enak (tapi tiap menit ngemil putri salju sama palm cheese, maaak!), akhirnya minggu lalu periksa ke dokter gigi di rumah sakit. Yah meski agak kebat-kebit soal pembayarannya karena kali ini udah ga bisa reimburse hahah. Takut tekor ceritanya. Perkiraan sih sekitar 350 ribu biayanya untuk tambal gigi.

Di rumah sakit ternyata hanya ada satu dokter gigi yang bertugas di jam itu. Laki-laki pulak. Duh. Kan tambah tengsin ya mangap depan lawan jenis. Udah gitu mending giginya rapih bagus, lah ini pada item-item bolong, karang gigi di mana-mana. Aku maluuu… Tapi daripada pulang dan gigi masih sakit, ya mending sekalian lah. Trus selama nunggu antrian, jantung berdebar lebih kenceng deh kayaknya hahah. Entah karena terbiasa (tiap nunggu giliran papsmear juga berdebar kenceng) atau karena dokternya laki-laki hehe.

Setelah nunggu lumayan lama, eh ga nyangka disambut dengan ramah sama dokternya, drg. Ewaldo. Ramah dan ceria gitu, jadi rileks deh. Orangnya juga sangat komunikatif dan terbuka dengan diskusi. Sempet banyak tanya soal kondisi gigi saat itu dan dijawab dengan jelas dan dengan analogi yang mudah dimengerti. Bahkan saat discaling pun masih aja kami diskusi dan tanya jawab. Jadi bentar-bentar scaling, kumur untuk buang darah dan remahan karang gigi, diskusi lanjut lagi scaling. Setelah melihat kondisi gigi yang dikeluhkan, dokternya ngasih rencana perawatan gigi untuk saya. Pertama, cabut dua gigi bungsu yang tumbuhnya di luar garis gigi. Kedua gigi tersebut juga percuma dipertahankan. Kalau dipertahankan pun akan menyulitkan untuk dibersihkan dari sisa makanan karena posisinya terlalu sulit dan mepet pipi untuk dijangkau sikat. Kalau ditambal pun, tambalan tidak akan bertahan lama. Untuk itu saya diberi surat rujukan untuk rontgen panorama supaya bisa ditentukan apakah saya harus operasi cabut gigi atau dicabut biasa. Kedua, setelah graham bungsu dicabut barulah gigi-gigi yang bolong ditambal. Ketiga, merapihkan gingsul gigi bawah yang tumbuh di dalam dengan kawat gigi. Lagi-lagi, cabut graham bungsu yang di belakang supaya ada tempat untuk si gingsul nantinya. Nah, karena tahapannya seperti itu jadilah kunjungan saat itu hanya membersihkan karang gigi yang tebal karena sudah 2 tahun tidak berkunjung ke dokter gigi hehe.

Hal yang dikuatirkan akhirnya tiba. Saat pembayaran hahahah… Well, lumayan mahil dong! Total 495 ribu hiks. Rinciannya biaya administrasi 25 ribu, scalling 350 ribu dan konsultasi dokter 120 ribu. Karena konsultasinya memuaskan, biaya segitu rasanya setara deh. Saya dan suami kagum dan sangat puas dengan edukasi gigi yang disampaikan. Amat jarang kami dapat edukasi gigi sejelas itu saat kunjungan ke dokter gigi, saat itu yang pertama kali malah. Tapi tapi… Kan jadi ga sesuai anggaran…

Pinterest dan Infertilitas

Beberapa hari lalu dapat kabar kalau ada saudara yang baru melahirkan anak pertamanya. Rasanya… Sedih. Apalagi saat lihat mata suami berkaca-kaca meski dia ga bilang apapun soal perasaannya. Rasanya kami saling meratapi kesedihan masing-masing dalam hati tanpa perlu diucapkan.

Lalu supaya saya tak terhanyut dalam duka nestapa (lebay dikit), iseng buka Pinterest dan search fertility. Nah kan, jadi bermanfaat karena dapat banyak tips dan emosi saya jadi positif.

Dari beberapa yang sudah saya pin, beberapa diantaranya soal makanan yang baik untuk dikonsumsi dan sebaiknya tidak dikonsumsi bila sedang merencanakan kehamilan. Dari situ langsung saya susun daftar makanan yang disebutkan dan saya ajukan daftarnya ke suami. Alhamdulillah daftarnya disetujui semua, baguslah. Kalau sebelumnya baru habbatussauda, madu lalu jus tomat dan sepotek wortel (hehe iya sepotek, karena dia cuma mau makan wortel yang kecil dan tidak di jus), sekarang daftarnya bertambah banyak. Bismillah… Semoga usahanya dimudahkan dan diizinkan Allah…

Masih dari Pinterest, ada beberapa quotes lucu yang bikin ngakak. Jadi terhibur deh bacanya, meski rada miris gitu hehe. 

Bener banget, 15 – 30 menit. Saya juga sampe punya dua termometer: analog dan digital
Saya ga sampe segitunya sih hehe…
All the time…
Lebih ironis lagi karena ulang tahun saya bertepatan dengan Hari Ibu
Ini tips yang oke banget deh hahaha

Ada lagi satu pin sebuah blog yang isinya analogi bagaimana rasanya menanti kehamilan. Sempat terpikir untuk bikin analogi seperti itu juga, tapi pengandaian seperti apa ya yang pas menggambarkan rasanya penantian seperti ini? Dalam blog tersebut, ada pengandaian yang bikin saya ingat satu kejadian.

… and I’m unqualified to join the team.” Saya mengerti sekali perasaan itu. Saya pernah datang bertemu teman yang semuanya sudah menikah lalu bahan pembicaraannya seputar pengalaman kehamilan dan melahirkan. Posisi saya seperti dibangku penonton. Saya melihat semua kejadian tapi ga bisa ikut gabung karena posisi saya diluar lapangan. Rasanya mau pergi dari situ, tapi cuacanya di luar sedang hujan jadi saya terperangkap. Kapok. Saking kapoknya, saat itu juga saya bertekad ga mau lagi main dan berkumpul dengan ibu-ibu tersebut hahah…

Kunjungan Pertama Ke dr. SpOG

Teringat ke masa awal pernikahan, saya jadi teringat runutan usaha kami dalam rangka program hamil. Sebagai anak yang pertama menikah di masing-masing keluarga kami, tentunya kami mendapat dorongan untuk segera memiliki anak. Namun apa daya, setelah berbulan-bulan saya tak kunjung hamil. Risau tentu, tapi suami selalu menenangkan saya. Hingga suatu hari saya berhasil membujuknya untuk berkunjung ke dokter. Kami ke RS Bina Husada, rumah sakit terdekat dari rumah kami, dan tak lama setelah melakukan pendaftaran kami sudah mengantri.

Di ruang dokter, saya di usg luar untuk mencari tahu kondisi rahim. Hasilnya adalah rahim saya bersih dan tidak ada kista. Saat berkonsultasi, dokter meresepkan vitamin untuk saya dan menenangkan kekhawatiran saya setelah dia mengetahui umur pernikahan saya yang baru satu tahun.

Lesson learnt: jangan bilang ke dokter kalau umur pernikahan baru satu tahun agar dianggap serius oleh dokter. 😀

Rekomendasi dr. SpOG

Beberapa waktu lalu saya sempat berkunjung ke rumah seorang teman. Kami berbincang mengenai kehamilan, kebetulan ia baru saja hamil setelah beberapa minggu menikah. Ia menyarankan nama seorang dokter agar saya berkonsultasi ke dokter tersebut karena diagnosa dokter tersebut tepat dan ada kenalannya yang berhasil hamil setelah menikah beberapa tahun meski akhirnya si kenalan tersebut mengalami keguguran.

Mendengar kalimat yang disampaikan teman ini, pikiran saya tergelitik. Yang saya tangkap seakan dokter tersebut hebat karena mampu memberi kehamilan. Dulu, setiap saya mencari dokter untuk berkonsultasi mengenai program hamil, yang saya cari adalah dokter perempuan untuk kenyamanan saya. Bahkan saya pernah minta ke petugas pendaftaran pasien di rumah sakit agar dicarikan dokter dengan jumlah pasien yang sedikit. Hehe, saya memang begitu orangnya 😀 Asalkan dokternya perempuan, it’s good enough.

Hal ini membuat saya berpikir, bukankah Allah yang berkenan sedangkan dokter hanyalah perantara? Sehingga dokter manapun sebenarnya mampu jika sang Maha Menghidupkan berkehendak? Yang jadi kendala buat kami sebenarnya adalah dana hehe… Biaya untuk program hamil itu lumayan menguras kantong. Itu pula sebabnya kami sempat beberapa kali berhenti melakukan kunjungan ke dokter selain karena kami juga sedikit lelah berharap.

Apapun itu, saya paham bahwa kalimat yang ia sampaikan sesungguhnya adalah bentuk kebaikan hatinya dengan memberikan harapan bahwa ada seseorang yang dapat membantu kami, tentunya dengan seizin Allah dan semoga suatu hari Ia mengizinkan. Amin ya rabb…

4th Wedding Anniversary

Sudah genap empat tahun menikah. Rencana awal kami di hari bersejarah itu adalah keluar rumah untuk jalan-jalan dan makan berdua. Tapi rencana berubah mendadak karena langit terlihat mendung. Hmm… Bukankah mendung tak berarti hujan? Betul, karena cuaca berubah cerah. Langit mendungnya sudah berpindah ke hati saya. Haha, biarin deh lebay. Padahal suami minta agar acara jalan dan makannya diganti hari dan tempat, diganti dari tanggal 3 ke tanggal 4 dan dari Bamboo Dimsum ke Abuba tapi teteup… Bete karena dibatalkan mendadak.

Besok harinya, ajakan yang sempat dibatalkan itu terwujud. Jalan-jalan, makan berdua, semua dalam satu hari. Benar-benar hari yang menguras tenaga. Jalan ke sana, jalan ke sini… Duduk hanya saat makan dan di dalam kendaraan. Sungguh hari yang menyenangkan dan tentunya juga mengenyangkan hehe…

Hay kamu, terima kasih sudah bersabar dan memahami polah tingkahku selama empat tahun ini ya… Masih teringat ujaran teman yang kurang lebih bilang, “Ketika menikah, apapun ditanggung bersama”. Bersama kamu, rasanya ringan hati ini menjalani. Semoga Allah memurahkan hatiNya dengan memberi kita Valrhona dan Praline ataupun Wisanggeni ya…