Pinterest dan Infertilitas

Beberapa hari lalu dapat kabar kalau ada saudara yang baru melahirkan anak pertamanya. Rasanya… Sedih. Apalagi saat lihat mata suami berkaca-kaca meski dia ga bilang apapun soal perasaannya. Rasanya kami saling meratapi kesedihan masing-masing dalam hati tanpa perlu diucapkan.

Lalu supaya saya tak terhanyut dalam duka nestapa (lebay dikit), iseng buka Pinterest dan search fertility. Nah kan, jadi bermanfaat karena dapat banyak tips dan emosi saya jadi positif.

Dari beberapa yang sudah saya pin, beberapa diantaranya soal makanan yang baik untuk dikonsumsi dan sebaiknya tidak dikonsumsi bila sedang merencanakan kehamilan. Dari situ langsung saya susun daftar makanan yang disebutkan dan saya ajukan daftarnya ke suami. Alhamdulillah daftarnya disetujui semua, baguslah. Kalau sebelumnya baru habbatussauda, madu lalu jus tomat dan sepotek wortel (hehe iya sepotek, karena dia cuma mau makan wortel yang kecil dan tidak di jus), sekarang daftarnya bertambah banyak. Bismillah… Semoga usahanya dimudahkan dan diizinkan Allah…

Masih dari Pinterest, ada beberapa quotes lucu yang bikin ngakak. Jadi terhibur deh bacanya, meski rada miris gitu hehe. 

Bener banget, 15 – 30 menit. Saya juga sampe punya dua termometer: analog dan digital
Saya ga sampe segitunya sih hehe…
All the time…
Lebih ironis lagi karena ulang tahun saya bertepatan dengan Hari Ibu
Ini tips yang oke banget deh hahaha

Ada lagi satu pin sebuah blog yang isinya analogi bagaimana rasanya menanti kehamilan. Sempat terpikir untuk bikin analogi seperti itu juga, tapi pengandaian seperti apa ya yang pas menggambarkan rasanya penantian seperti ini? Dalam blog tersebut, ada pengandaian yang bikin saya ingat satu kejadian.

… and I’m unqualified to join the team.” Saya mengerti sekali perasaan itu. Saya pernah datang bertemu teman yang semuanya sudah menikah lalu bahan pembicaraannya seputar pengalaman kehamilan dan melahirkan. Posisi saya seperti dibangku penonton. Saya melihat semua kejadian tapi ga bisa ikut gabung karena posisi saya diluar lapangan. Rasanya mau pergi dari situ, tapi cuacanya di luar sedang hujan jadi saya terperangkap. Kapok. Saking kapoknya, saat itu juga saya bertekad ga mau lagi main dan berkumpul dengan ibu-ibu tersebut hahah…