Kunjungan Pertama Ke dr. SpOG

Teringat ke masa awal pernikahan, saya jadi teringat runutan usaha kami dalam rangka program hamil. Sebagai anak yang pertama menikah di masing-masing keluarga kami, tentunya kami mendapat dorongan untuk segera memiliki anak. Namun apa daya, setelah berbulan-bulan saya tak kunjung hamil. Risau tentu, tapi suami selalu menenangkan saya. Hingga suatu hari saya berhasil membujuknya untuk berkunjung ke dokter. Kami ke RS Bina Husada, rumah sakit terdekat dari rumah kami, dan tak lama setelah melakukan pendaftaran kami sudah mengantri.

Di ruang dokter, saya di usg luar untuk mencari tahu kondisi rahim. Hasilnya adalah rahim saya bersih dan tidak ada kista. Saat berkonsultasi, dokter meresepkan vitamin untuk saya dan menenangkan kekhawatiran saya setelah dia mengetahui umur pernikahan saya yang baru satu tahun.

Lesson learnt: jangan bilang ke dokter kalau umur pernikahan baru satu tahun agar dianggap serius oleh dokter. 😀

Advertisements

Rekomendasi dr. SpOG

Beberapa waktu lalu saya sempat berkunjung ke rumah seorang teman. Kami berbincang mengenai kehamilan, kebetulan ia baru saja hamil setelah beberapa minggu menikah. Ia menyarankan nama seorang dokter agar saya berkonsultasi ke dokter tersebut karena diagnosa dokter tersebut tepat dan ada kenalannya yang berhasil hamil setelah menikah beberapa tahun meski akhirnya si kenalan tersebut mengalami keguguran.

Mendengar kalimat yang disampaikan teman ini, pikiran saya tergelitik. Yang saya tangkap seakan dokter tersebut hebat karena mampu memberi kehamilan. Dulu, setiap saya mencari dokter untuk berkonsultasi mengenai program hamil, yang saya cari adalah dokter perempuan untuk kenyamanan saya. Bahkan saya pernah minta ke petugas pendaftaran pasien di rumah sakit agar dicarikan dokter dengan jumlah pasien yang sedikit. Hehe, saya memang begitu orangnya 😀 Asalkan dokternya perempuan, it’s good enough.

Hal ini membuat saya berpikir, bukankah Allah yang berkenan sedangkan dokter hanyalah perantara? Sehingga dokter manapun sebenarnya mampu jika sang Maha Menghidupkan berkehendak? Yang jadi kendala buat kami sebenarnya adalah dana hehe… Biaya untuk program hamil itu lumayan menguras kantong. Itu pula sebabnya kami sempat beberapa kali berhenti melakukan kunjungan ke dokter selain karena kami juga sedikit lelah berharap.

Apapun itu, saya paham bahwa kalimat yang ia sampaikan sesungguhnya adalah bentuk kebaikan hatinya dengan memberikan harapan bahwa ada seseorang yang dapat membantu kami, tentunya dengan seizin Allah dan semoga suatu hari Ia mengizinkan. Amin ya rabb…

4th Wedding Anniversary

Sudah genap empat tahun menikah. Rencana awal kami di hari bersejarah itu adalah keluar rumah untuk jalan-jalan dan makan berdua. Tapi rencana berubah mendadak karena langit terlihat mendung. Hmm… Bukankah mendung tak berarti hujan? Betul, karena cuaca berubah cerah. Langit mendungnya sudah berpindah ke hati saya. Haha, biarin deh lebay. Padahal suami minta agar acara jalan dan makannya diganti hari dan tempat, diganti dari tanggal 3 ke tanggal 4 dan dari Bamboo Dimsum ke Abuba tapi teteup… Bete karena dibatalkan mendadak.

Besok harinya, ajakan yang sempat dibatalkan itu terwujud. Jalan-jalan, makan berdua, semua dalam satu hari. Benar-benar hari yang menguras tenaga. Jalan ke sana, jalan ke sini… Duduk hanya saat makan dan di dalam kendaraan. Sungguh hari yang menyenangkan dan tentunya juga mengenyangkan hehe…

Hay kamu, terima kasih sudah bersabar dan memahami polah tingkahku selama empat tahun ini ya… Masih teringat ujaran teman yang kurang lebih bilang, “Ketika menikah, apapun ditanggung bersama”. Bersama kamu, rasanya ringan hati ini menjalani. Semoga Allah memurahkan hatiNya dengan memberi kita Valrhona dan Praline ataupun Wisanggeni ya…